Menilisik Putusan Juri, Yang Di Gugat


         
            SUMPAH. Ini benar-benar di luar ekpektasi saya. Dalam hitungan menit, tulisan yang berjudul “Karya Tari Inovatif, Gedor Panggung Virtual BPNB” yang dipublish di blog www.betandang.com seminggu yang lalu, mendapat sorotan sekaligus (sedikit) gaduh. Akibatnya, berbagai pesan berseliweran di whatsapp yang saya miliki. Sekalipun sumber dari berbagai nomor dan orang yang berbeda, namun isinya nyaris senada, yakni sejenis klarifikasi. Beruntung juga orang tersebut (masih) menyimpan sabar, karena pesan yang masuk itu baru saya tanggapi beberapa jam kemudian, keterlambatan ini bukan disengaja apalagi diabaikan, tapi di waktu yang bersamaan, saya punya kesibukan lain. Bisa dipastikan, kala itu posisi telepon genggam butut yang saya miliki dua tahun lalu itu tidak di tangan, dan jauh pula dari kocek baju dan celana. 
Komunikasi dan klarifikasi tiba-tiba itu terwujud lebih kurang satu jam jelang bakda Magrib. Di awal pembicaraan  saya terperanjat luar biasa. Ternyata hasil lomba yang diumumkan secara live di youtube BPNB tanggal 28/10 yang lalu itu, digugat hebat peserta lomba.  Dalam hati saya bergumam, ah, ini persoalan biasa dan lumrah. Hampir dipastikan setiap kali lomba (nyaris) menyisakan ada (saja) peserta yang merasa tidak puas. Rasa tidak puas itu biasanya dipantik   keputusan dewan juri tentang hasil lomba. Ujung-ujungnya para pengadil dipelasah. Karena dianggap tidak becus, tidak kompeten, tidak profesional dan seonggok kalimat satir lainnya. 
            Sebagai pendengar, saya nyimak dengan tunak. Dua menit berjalan, jujur saja saya merasa tidak nyaman dengan obrolan ini. Sempat terbersit keinginan menutup pembicaraan. Karena merasa keberatan hasil amatan, dan pikiran yang tertuang ditulisan tersebut seolah-olah diadili hanya atas dasar berbeda pandangan. Sikap ini bukan persoalan alergi dengan kritik balik.  Saya juga tidak dalam posisi meminta konten tulisan yang saya buat itu diaminkan saja, karena sudah merasa benar dan sesuai. Sekali lagi, tidak. Anggapan saya jika sebuah tulisan kritik pertunjukan, dirasakan merugikan pihak lain. Ada ruang yang terbuka lebar untuk menjawabnya melalui sebuah tulisan juga. Setidaknya itu, yang memicu saya untuk menutup sambungan telpon ketika itu.
            Alamak. Beruntunglah saya tidak gegabah. Pikiran tadi urung disampaikan, karena gugatan (sebagian) peserta lomba tari inovatif ini justru memantik saya untuk menyimaknya lebih jauh. Saya akui curhatan ini memang termasuk kategori peristiwa langka, tapi tidak begitu rumit dalam sengkarut sebuah ajang lomba. Akhirnya, pikiran dan kedua kuping saya siapkan untuk mendengar secara utuh curhat penting ini. Penjelasan yang nyaris berjilid-jilid itu, berkesimpulan bahwa peserta sangat menyesali keputusan dewan juri yang tidak sejalan dengan juklak yang disampaikan oleh panitia kepada peserta lomba. Dalil yang dikutuk peserta dalam panduan karya itu terdapat pada poin ke-3 dari 14 butir rambu, yang bunyinya  “pengambilan video secara landscape dan one take shoot tanpa proses editing kecuali bumbering atau credit title (diperbolehkan). Hal ini dipertegas lagi oleh panitia secara langsung bahwa dalam pengambilan gambar video garapan, fokus kamera tidak boleh bergerak. Demikian narasinya pada saya melalui sambungan telepon.
            Bila dihubungkan dengan tulisan dan amatan saya dalam menyaksikan karya peserta lomba tari inovatif, berikut pemaparannya.
            Menyaksikan 42 karya tari peserta yang penulis dapatkan linknya dari salah seorang dewan juri. Sangat dipahami, semangat mereka dalam berbuat, patut diapresiasi lebih. Kegigihan mereka dalam waktu yang relatif pendek, diperparah sempitnya ruang bergerak namun masih bisa mewujudkan imajinasinya patut di acung. Di sisi lain, tak bisa pula dipungkiri, di tengah keterbatasan tadi sebagian besar koreografer dirasakan belum move on dari kondisi sebelumnya. Sehingga sensasi yang dirasakan ketika melihat karya peserta adalah; seperti menonton dokumentasi karya tari yang dipentaskan di panggung prosenium. Menonton dokumentasi karya tari yang pentaskan di alam terbuka. Karena kamera dalam hal ini diposisikan sebagai penonton, tidak lebih. (www.betandang.com).
            Meminjam rambu poin 3 yang disampaikan panitia pada peserta lomba tentang pengambilan gambar, yakni memposisikan kamera sebagai penonton saja, kamera tidak boleh bergerak. Relasinya sangat kuat. Ternyata sebagian besar karya peserta nyaris linear dengan panduan karya yang dibuat panitia tadi. Bila diklasipikasikan ada dua bentuk penyajian karya para pengkreatif tersebut. Pertama, koreografer mensiasati dengan memanfaatkan ruang-panggung yang tidak begitu lebar. Sehingga jangkauan kamera dengan jarak penari cukup ideal. Namun dari segi rasa, penyajiannya sebuah tari yang tayang dalam bentuk virtual urung memberi kesan-pesan pada penontonnya. Kedua, koreografer tidak mempertimbangkan ruang yang digunakan penarinya. Sehingga memanfaatkan ruang yang luas, tanpa batas guna memberi  keleluasaan pada penari. Hasilnya kebobolan, karena posisi dan jangkauan kamera yang tidak ideal tadi.
            Akhirnya, karya ini tersaji dinilai benar secara aturan, terbengkalai dalam nilai dan rasa. Mereka mengklaim dan memposisikan diri tidak hanya menjadi peserta yang manut, patuh dan penurut pada juklak. Lebih dari itu, mereka adalah para koreografer yang mampu menahan diri untuk tidak berimajinasi lebih tentang penggunaan kamera. Runyam. Dipuji ataukah disesali. Dua-duanya punya peluang yang sama. Tinggal cara pandang orang yang melihatnya.  
 
Keputusan Juri di Gugat
            Hanya dua dari total 42 karya tari inovatif yang kemasannya berbeda. Jika disandingkan, karya mereka memang enak dilihat, kreatif, imajinatif, dan kaya nutrisi. Menanggapi dua karya tersebut, begini pengamatan saya dalam tulisan lanjutan.    
            Karya Ingat Lupa menyajikan menu yang berbeda dengan peserta lainnya. Tontonan yang memberikan ruang kepada audiennya untuk aktif menafsir. Gaya garapnya mencoba untuk menyajkan sebuah puisi yang  berangkat dari pencarian dalam diri. Karya ini menyiratkan pada penonton ia tak ingin bermegah ria di dalamnya. Gerakan yang dihiasi dengan alur  stakato, gamang, repetitif, mengalir yang kemudian menghasilkan sebuah puisi gerak yang menyoal kerapuhan, kesedihan tentang kepergian orang yang dicintai. Sangat disayangkan, alur tari yang dibangun begitu kuat sejak awal, memasuki menit 6.24 imajinasi penonton terusik hebat oleh melodis Kulintang Kayu, yang hadir tiba-tiba. Agaknya,  kemunculan Kulintang, lebih didasari oleh keinginan koreografer untuk menghadirkan suasana kesedihan. Beberapa detik kemudian menyusup alunan Krinok (pantun yang dinyanyikan), lengkap dengan gesekan biola  yang menyayat kembali sukses membuncah suasana sekaligus menyuplai energi hebat pada enam penari yang bergerak bebas. Jujur saja, sampai ke menit 07.11 detik karya ini mampu menggedor psikologi penontonnya. Sedangkan 2 menit sisanya, lebih terkesan tempelan untuk memberikan keindahan artistik.   
            Masih dari Jambi. Penyajian karya tari Peso yang berkisah tentang gejolak rasa para ibu rumah tangga menggunakan Ambung tampil dengan alur zig zag. Memanfaatkan rumah yang disulap menjadi panggung, lengkap beranda dan pagar yang terbuat dari kayu itu telah melahirkan imajinasi yang beragam. Wajah kegelisahan, kecemasan, dan ketakutan tanpak mendominasi. Beberapa kali mereka menjerit sekuat tenaga, sesekali tercipta suasana hening lalu bengis. Hitungan detik, dengan sigap mereka berpencar. Beberapa tubuh lusuh ada yang lengket di dinding kayu, lunglai di tiang penyangga, dan ada pula berdiri tegak sembari mendekap kuat ambung ke tubuhnya. Dengan posisi yang kini berbeda, seperti diorkestrasi wajah mereka kompak memelas karena tekanan hidup yang semakin berat. Strategi koreografer memang tidak seluruhnya mulus dalam menyiasati kekurangan yang dimiliki penarinya. Terbukti dibeberapa bagian penari memang tampil gagap, seperti kehilangan keseimbangan. Beruntung kekurangan tadi ditambal oleh kehadiran kamera, dan suplai lighting.  (www.betandang.com).
            Harus diakui. Dua karya tari ini, bergerak bebas, liar dan cerdas. Sejatinya, dua koreogarfer muda itu berkesimpulan, lomba tari inovatif yang disajikan dalam bentuk virtual, memuat kerja kreatif, dan kerja sineas. Tidak bisa hanya mengandalkan kepekaan pengkreatif dalam merangkai dan menyusun gerak saja, melainkan unsur lain yang tidak kalah pentingnya adalah memanfaatkan kepiawaian kameramen, editor, lighting dan unsur pendukung tari lainnya. Dengan kolaborasi beberapa unsur tadi, antara keinginan dan capaian bisa diraih.
            Mana yang benar, dan mana pula tafsiran yang dianggap salah. Semuanya punya argumen.  Yang jelas pesta BPNB Kepulauan Riau yang bertajuk “Lomba Virtual Tari Inovatif 2020” usai. Keputusan dewan juri menetapkan karya tari Peso dan Ingat Lupa dari provinsi Jambi pun berakhir gugatan. Alasan para penggugat cukup kuat, yakni menyoal tentang juklak. Sisi lain, dewan juri juga tak bergeming dan punya pendirian yang membatu, dengan mengunci erat kata virtual dan juklak dalam pengertian yang luas. Lalu di mana posisi panitia sebagai penyelenggara. Diyakini pula mereka punya dalil, dan sikap sekalipun tak semuanya benar.  
            Sepuluh jari saya susun, tidak bermaksud menggurui panitia apalagi dewan juri yang kompetensinya tidak ada celah untuk diragukan. Diakui, juri ada dalam sebuah tekanan hebat dalam merumus putusannya. Tidak ada pula jaminan akan berakhir dengan sedikit riak, sejuk dan elegan, jika disaat –saat genting itu panitia dan juri berinisiatif menambah satu lagi kategori pemenang lomba.  Untuk nama dan kategori,  tentu juri punya kapasitas itu. Jika ini dianggap bijak tapi sudah terlambat,  maka peristiwa ini cukup menjadi satu pembelajaran sebagai asupan sekaligus penawar kemasa hadapan.
            Kini nasi telah jadi bubur. Sangat dipahami, merubah keputusan merupakan langkah sulit dan berbelit.  Yang tersisa kini hanyalah kata legowo bagi peserta yang merasa dirugikan. Ungkapan maaf nan tulus dari penyelenggara jika merasa punya kontribusi dalam satu kekilafan. Di pihak juri menjadi pengalaman luar biasa sekaligus introspeksi diri, dengan peristiwa ini melengkapi batin untuk lebih bijak (lagi) dalam mengedukasi peserta kedepannya. Kebesaran jiwa berbagai pihak tadi dengan sendirinya diharapkan mampu menjadi energi pemicu meraih satu kemenangan besar dengan memastikan gelaran serupa dikerjakan lebih berhati-hati dan profesional.
            Pertanyaan radikalnya, dan kiranya perlu untuk direnung. Kedepan perlu lomba ataukah festival tari. Untuk menjawabnya, saya pinjam kata bijak pianis mahal Indonesia. “Saya hanya ingin bermain dan menang bukanlah tujuan saya. Saya datang ke Grammy untuk bermain. Tidak berharap untuk menang. Ini semua tentang musik. Kesempatan bermain untuk kedua pertunjukan itu merupakan berkah yang besar”, demikian Joey Alexander

2 Komentar untuk "Menilisik Putusan Juri, Yang Di Gugat"

  1. Sayangnya km pembaca tdk mendapat ulasan yg sama terhadap 40 peserta lainnya seperti 2 yg telah dikuliti oleh penulis. "Terkadang km pembaca terbuai dg kamuflase yang dihidangkan penulis" dalam kondisi sekarang "serba virtual" tentu cara menggugat keputusan juri hrs nya senada (red, virtual jg).
    Sedikit lucu dan menggelitik.
    Jikalu ada yg menggugat BNPB dg luring, bs sj BNPB bilang " gagatan anda salah alamat" hehehe... Terhibur!

    BalasHapus
    Balasan
    1. mkaseh apresiasinya imasded. ulasan 40 karya ada didalamnya. smoga peristiwa ini menjadi pembelajaran ntuk lebih baik.

      Hapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2